Subtansi alami atau sintetis
yang menghambat penyerapan suatu vitamin dalam diet. Sebagian besar antivitamin
bekerja dengan cara kompetisi langsung dengan vitamin. Sifat ini disebabkan
karena rumus bangun kimiawi yang hampir sama, sehingga ada kompetisi antara
vitamin dan anti-vitaminnya atau karena reaksi anti-vitamin dengan vitamin itu.
-
Anti thiamin
Antagonis thiamin (thiaminase) dapat merusak molekul
thiamin, ditemukan pada banyak macam ikan segar terutama di limpa, hati,
jantung dan usus, kerang, khamir, linseed, mustard . Juga pada
tumbuh-tumbuhan seperti bracken fern (Pteridium aquillinum).
-
Anti Riboflavin
Kandungan hipoglisina dari ackec fruit menghambat
aktivitas riboflavin yang menghambat pertumbuhan pd tikus percobaan.
-
Anti Niasin
Antagonis niasin diperkirakan ada pada jagung dan
cantle (millet).Pada manusia dan binatang yang konsumsi utamanya terdiri
dari jagung, menunjukkan gejala defisiensi niasin berupa pellagra.
-
Anti Piridoksin
Antagonis : linatine. Terdapat pada
linseed (Limun usitatissimun) dan biji flax tdp 1-amino
D-prolin yg bergabung dg asam glutamat yang dpt menghambat piridoksin
-
Anti Biotin (Avidin)
Tahun 1930, Parsons dan para asistennya menemukan beberapa gejala
kehilangan rambut terutama sekitar mata, penurunan berat badan yang
cepat, kelumpuhan pada kaki belakang, hingga kematian, pada tikus-tikus
yang diberi pakan mengandung putih telur (albumin) mentah. Penelitian
lebih lanjut mendapati, situasi tersebut disebabkan suatu glikoprotein
yang diberi nama avidin, artinya “albumin yang lapar”, yang bagi embrio
ayam berfungsi sebagai pembunuh bakteri perusak (toxic) dari luar,
selain pelindung unsur-unsur gizi lain di dalam telur. Avidin mampu
mengikat biotin, sehingga tak dapat diserap melalui pencernaan. Dari
percobaan pada manusia, melibatkan empat sukarelawan yang diberi ransum
mengandung sekitar 3.000 kalori, yang 928 kalorinya berasal dari albumin
mentah, serta rendah kandungan biotinnya, dengan jangka waktu pemberian
10 minggu, didapati, pada minggu ketiga dan keempat mereka mengalami
masalah di bagian kulitnya. Di samping itu ditemukan adanya penurunan
kadar hemoglobin dan biotin dalam urine hingga sepersepuluh dari normal,
serta kenaikan kadar kolesterol
Avidin memiliki Afinitas yang tinggi untuk
membentuk komplek avidin biotin. Yang memungkinkan biotin yang
mengandung molekul dalam campuran kompleks untuk secara khusus terikat
untuk avidin. Avidin adalah glikoprotein ditemukan dalam putih telur dan
jaringan burung, reptil dan amfibi. Ini berisi empat subunit identik.
Setiap subunit terdiri dari 128 asam amino dan mengikat satu molekul
biotin, dengan demikian, total empat molekul biotin dapat mengikat
molekul avidin tunggal. Luasnya glikosilasi pada avidin sangat tinggi;
karbohidrat mencapai sekitar 10% dari massa total tetramer tersebut.
Avidin memiliki titik isoelektrik dasar (PI) 10 sampai 10,5 dan stabil
melalui berbagai pH dan suhu. Modifikasi kimia yang luas memiliki
sedikit efek pada aktivitas avidin, sehingga sangat berguna untuk
pemurnian protein. Namun, karena kandungan karbohidrat dan pi dasar,
avidin akan cenderung membentuk ikatan nonspesifik.
Kompleks avidin-biotin dikenal sebagai
interaksi antara protein dan ligan secara non kovalen yang terkuat.
Pembentukan ikatan antara biotin dan avidin sangat cepat, dan apabila
telah terbentuk tidak akan terpengaruh oleh pH ekstrem, suhu, pelarut
organik dan agen denaturing lainnya. Avidin memiliki kemampuan
mendeteksi atau memurnikan protein berlabel biotin atau molekul lain
sangat berguna untuk sejumlah aplikasi biomedis.
proses terbentuknya avidin dan biotin ialah
Antibodi primer diinkubasi dengan sampel jaringan untuk memungkinkan
mengikat antigen target. Lalu diinkubasi selama 1 jam pada suhu ruang
atau selama 24 jam pada suhu 4o C. Lalu Sebuah antibodi
sekunder terbiotinilasi, dengan spesifisitas terhadap antibodi primer,
diinkubasi dengan sampel jaringan untuk memungkinkan mengikat antibodi
primer. Lalu di inkubasi selama 1 jam pada suhu kamr. Sebuah enzim
terbiotinilasi (HRP atau AP) prainkubasi dengan avidin bebas untuk
membentuk avidin-biotin-enzim kompleks. Biasanya, avidin dan enzim
terbiotinilasi dicampur bersama dalam rasio tertentu untuk mencegah
kejenuhan avidin dan diinkubasi selama 15 menit pada suhu kamar untuk
membentuk kompleks.
Sebuah alikuot larutan ini kemudian ditambahkan ke dalam sampel jaringan, dan seluruh situs biotin-binding di avidin mengikat untuk biotinylated antibodi yang sudah terikat untuk jaringan . Hasilnya adalah terbentuknya enzim dengan konsentrasi yang besar (molekul enzim 3-1 molekul avidin) di lokasi antigen dan karena itu terjadi peningkatan intensitas sinyal dan sensitivitas ketika ditambahkan penambahan substrat. Perubahan warna akan terjadi apabila ditambahkan streptavidin sebagai substrat.
Sebuah alikuot larutan ini kemudian ditambahkan ke dalam sampel jaringan, dan seluruh situs biotin-binding di avidin mengikat untuk biotinylated antibodi yang sudah terikat untuk jaringan . Hasilnya adalah terbentuknya enzim dengan konsentrasi yang besar (molekul enzim 3-1 molekul avidin) di lokasi antigen dan karena itu terjadi peningkatan intensitas sinyal dan sensitivitas ketika ditambahkan penambahan substrat. Perubahan warna akan terjadi apabila ditambahkan streptavidin sebagai substrat.
Kelebihan : Sangat
sensitive karena tempat ikatan substrat lebih banyak dan afininitas
kompleks avidin-biotin tinggi maka lebih stabil. Ikatan yang terbentuk
sangat kuat tidak terpengaruh oleh pH ekstrem, temperatur, pelarut
organik dan agen denaturing yang lain.
Kekurangan : Membutuhkan waktu yang cukup lama,
avidin dapat menempel pada bahan padat sehingga apabila ditambahkan
substart akan terjadi perubahan warna.1) NS Palupi, FR Zakaria dan E Prangdimurti. Modul e-Learning ENBP, Departemen Ilmu & Teknologi Pangan-Fateta-IPB 2007 : Topik 6 Metode Evaluasi Efek Negatif Komponen Non Gizi. (Online) 2007 (diakses 10 Desember 2012) dari (http://xa.yimg.com/kq/groups/20875559/783642276/name/TOPIK_6.pdf)
2) Oligosakarida yang
menyehatkan(http://web.ipb.ac.id/~tpg/de/pubde_ntrtnhlth_oligosakarida.php)
3) Asam fitat pada bahan
pangan
(http://alimyameen.blogspot.com/2008/11/asam-fitat-pada-bahan-pakan.html)
4) Metode Evaluasi Efek Negatif Komponen Non
Gizi: Komponen alami pangan yang dapat bersifat sebagai antinutrisi
(http://xa.yimg.com/kq/groups/20875559/1361454264/name/Topik6-1ppt.pdf)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar